Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Indonesia dan Kita

Jika kita bepergian ke negara-negara “maju”, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis, Kanada, Australia dan lain sebagainya, ada banyak fenomena menarik dalam kehidupan keseharian jika dibandingkan dengan Indonesia. Mereka negara yang relatif sekular, negara tidak mencampuri urusan agama masyarakat. Agama dan keyakinan hidup adalah urusan individu masing-masing orang.

Pertama-tama yang langsung terlihat adalah kebersihan, keteraturan, ketertiban, kerapihan dan keindahan. Kota yang indah, rapi, teratur dan tertib. Public transportation seperti bus, trem, kereta api dengan aneka nama dan jenisnya, transportasi sungai dan laut, semuanya tampak bersih, rapi, tertib dan memenuhi standar keamanan. Lalu lintas tampak ramai, namun tidak terdengar bunyi klakson.

Semua trafict light, semua tanda-tanda lalu lintas relatif dipatuhi. Sangat jarang dijumpai pengendara mobil yang “ugal-ugalan” atau tidak tertib di jalan maupun saat parkir. Mengendarai mobil di ruas-ruas jalan, baik siang maupun malam, terasa aman dan nyaman, karena yakin bahwa semua orang mematuhi aturan lalu lintas. Tidak khawatir akan diserobot atau ditabrak mobil lain, karena masing-masing mengerti dan mentaati aturan di jalan.

Jika kita di stasiun bus, bandara atau tempat umum lainnya, menjumpai toilet dalam keadaan bersih dan tidak berbau. Saya ingat cerita mbak Marissa Haque suatu ketika, bahwa kalau di Amerika kita harus jeli membaca tulisan atau bertanya kepada orang untuk mencari toilet di bandara. Namun di Indonesia tidak perlu bertanya atau membaca petunjuk, karena toilet bisa dikenali lewat baunya dari jarak jauh. Bau toilet yang khas menuntun kita menemukan lokasi toilet.

Di sepanjang trotoar jalan tampak bersih dan tidak ada pedagang kaki lima yang memenuhi badan trotoar. Toko dan pusat perbelanjaan kelihatan rapi dan tertib. Di semua tempat kita menyaksikan orang sangat tertib antri, untuk berbagai urusan. Jika menunggu bus umum, semua orang antri di halte. Saat bus datang, orang masuk sesuai urutan antri dan tidak berebutan masuk, apalagi dorong mendorong. Di kassa super market, semua orang antri dengan tertib. Di kasir saat kita di rumah makan atau kedai minuman, semua orang antri dengan tertib. Bahkan cenderung sepi, karena tidak terdengar orang berteriak-teriak.

Jika kita naik bus atau kereta api, selalu ada tempat yang dikhususkan untuk para penyandang cacat dan orang-orang tua, juga untuk ibu hamil. Anak-anak muda dan orang dewasa yang normal tidak akan menduduki kursi khusus tersebut, karena mereka mengutamakan orang cacat, orang tua dan ibu hamil.

Jika ada orang tua atau penyandang cacat naik bus, tampak bus dimiringkan posisinya oleh sopir, agar penumpang yang cacat atau sudah tua mudah naik ke dalam bus. Sopir akan menunggu sampai penumpang duduk, baru menjalankan busnya. Kecepatan bus juga diatur, ada kecepatan maksimal yang tidak boleh dilampaui.

Itu beberapa hal yang kelihatan dengan cepat oleh mata kita di negara-negara maju tersebut. Seorang teman mengatakan, “Akhlak mereka lebih baik dari akhlak masyarakat Indonesia”. Saya menyanggahnya. Tidak, ini bukan soal akhlak.

Jika kita bicara akhlak, maka selalu melibatkan dimensi Ketuhanan di dalamnya. Kita tidak perlu terlalu jauh meninjau sampai kepada dimensi Ketuhanan, karena akan lebih rumit. Jadi, mari kita pahami dengan dimensi kemanusiaan, yang relatif lebih mudah dilihat.

Apa yang kita saksikan di negara-negara maju tersebut merupakan akumulasi dari proses yang panjang. Proses pendidikan, proses kemakmuran dan penegakan hukum. Tentu sangat banyak proses lainnya, namun coba kita lihat dari tiga sisi ini saja untuk memudahkan.

Kumpulan dari masyarakat yang (relatif) terdidik, makmur dan dijaga dengan hukum yang ketat, menyebabkan mereka menjadi masyarakat yang tertib, teratur dan tampak sopan. Masyarakat tidak berani melanggar aturan karena mereka tahu bahwa hukum akan menyulitkan dan memberatkan mereka. Pelanggaran di jalan, akan berdampak langsung kepada mereka. Kamera yang dipasang di sepanjang jalan akan memotret pelanggaran yang dilakukan, dan akan langsung terkirim ke alamat rumah tagihan denda atas pelanggaran yang dilakukan.

Kamera menyebabkan tidak ada negosiasi di jalan. Jika bertemu polisi yang menemukan kita melakukan pelanggaran, kita tidak akan bisa negosiasi dengannya. Jika sopir bus berlaku tidak sopan, bisa kena komplain dari pelanggan. Jika sopir terkena komplain, dia bisa terkena sanksi sejak dipotong gaji sampai dikeluarkan dari pekerjaan. Jika sudah punya catatan dikeluarkan dari pekerjaan, akan menyebabkan sulit baginya mencari pekerjaan berikutnya.

Jika ada orang melakukan pelanggaran terhadap aturan pemerintah, siapapun orang itu, akan langsung terkena dampak hukum. Orang takut melanggar, orang takut menyimpang dari aturan karena akan membuat kesulitan yang panjang dalam hidup mereka selanjutnya. Orang berusaha untuk tidak berurusan dengan hukum, apalagi penjara. Tidak ada negosiasi dalam penegakan aturan. Walikota yang melanggar, akan tetap terkena sanksi hukum.

Kejahatan bisa terjadi dimana-mana sebagai tabiat alam kehidupan. Namun kejahatan bisa dikurangi dan dicegah dengan proses pendidikan, dengan peningkatan kemakmuran dan penegakan hukum yang tegas dan pasti. Saya masih ingat saat di Canberra, diantar oleh dua muslimah asal Malaysia menuju ke bukit salju. Berjalan dengan kecepatan 100 sampai 150 km/jam, muslimah ini tampak sangat santai mengendarai mobil. Perjalanan selama 3 jam lebih terasa nyaman, karena kondisi jalan yang bagus, lapang, dan semua orang taat aturan lalu lintas.

Di negara kita tercinta, pendidikan masih harus terus menerus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Kemakmuran masyarakat juga masih sangat jauh dari harapan, termasuk kemakmuran para aparat penegak hukum. Apalagi hukum tidak ditegakkan dengan konsisten. Semua bisa dinegosiasi, semua bisa diatur, semua bisa diselesaikan dengan “cara adat”. Terlebih ada kesan, siapa punya duwit, dia bisa mengatur apa saja di Indonesia.

Masyarakat merasa tidak takut melanggar aturan, karena sangat banyak orang melanggar tidak diapa-apakan. Aman-aman saja. Bebas-bebas saja. Masyarakat tidak malu melanggar lampu lalu lintas, karena banyak teman yang melakukannya. Pejabat tidak malu korupsi, karena banyak sahabatnya, dan tidak diproses hukum.

Masih banyak ingin saya tuliskan, tapi ini ibu-ibu pengajian British Columbia (BC) sudah mengajak saya jalan-jalan ke Dollar Store di downtown Vancouver. Nanti saya teruskan ceritanya. Khawatir mereka marah….. tuh sudah pada siap di mobil…. saya pergi dulu yah….



Oleh Cahyadi Takariawan
Vancouver 16 Maret 2011

http://pkspiyungan.blogspot.com/

Senin, 14 Maret 2011

Rahasia Kaya Raya dari Orang yang sukses

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan “tidur”. Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, “Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?”

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

” Ada empat hal yang harus Anda perhatikan,” begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu… baru kemudian ayahmu dan gurumu.

Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah.” Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

“Kemudian yang kedua,” beliau melanjutkan. “Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, ‘Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.’ Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA

“Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, ” begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. “Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.”

“Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga” , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

“Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ,” tanya beliau.


“Ya, bagaimana caranya?” jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.


“Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!” jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. “Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.”

“Walau pun itu orang kaya?” tanya saya.

“Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.”

“Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri,” saya bertanya lagi.

“Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu,” jawab beliau. “Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda.”

RAHASIA KEEMPAT

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

“Yang keempat nih, Mas,” beliau memulai. “Jangan mempermainkan wanita”.

Hm… ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

“Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil.”

“Lalu?” saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

“Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. “

Oh… pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

“Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Merasa “keadilan” yang dikatakan Al Qur’an hanya berupa keadilan material. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya,” beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.




1. Partai Keadilan Sejahtera buka Posko di Tangse Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.

2. Relawan Partai Keadilan Sejahtera tembus Desa Rantau Panyang

3. Partai Keadilan Sejahtera Wilayah Sumatera Utara belum bahas masalah Calon Wakil Gubernur.

4. Partai Keadilan Sejahtera Targetkan Cetak Sejuta Pengusaha UMKM

5. Partai Keadilan Sejahtera melakukan penggalangan dana buat warga jepang

http://www.kaskus.us/

Minggu, 13 Maret 2011

Rezeki Milik Siapa?


(Bukan Di Negeri Dongeng, h6-8, Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah dkk, Syaamil, cetakan kelima, desember '03)

Sosoknya tinggi besar, ada bekas sujud pada keningnya. Gaya bicara yang lembut tetapi tegas adalah ciri yang melekat padanya. Mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) wilayah Jawa Tengah ini sudah berdakwah sejak remaja. Sosoknya yang sederhana, gampang belas kasih pada kaum dhuafa adalah sosok istimewa di tengah-tengah gemerlapnya fasilitas anggota Dewan. Ya, Pak Zubair Syafawi kini adalah anggota legislatif DPRD I Jawa Tengah dari Partai Keadilan (Sekarang Partai Keadilan Sejahtera-beritapks).

Tahun ini beliau dicalonkan menjadi gubernur/wagub Jawa Tengah. Tahukah anda, beliaulah calon gubernur/wagub yang memiliki harta paling sedikit? Aset kepemilikan beliau ketika dihitung hanya sejumlah Rp. 20 juta ! Tidak lebih! Masya Allah. Saya tergugu mendengarnya.

Karena kebetulan saya dekat dengan keluarga beliau, saya tahu Pak Zubair dan Bu Dyah adalah sepasang suami-istri tangguh yang telah bertekadmenginfakkan seluruh hidupnya untuk dakwah Islam dan tidak sedikit pun hendak mengambil rezeki lebih dari jalan dakwah yang beliau pilih.

Berputra hampir enam, rumah masih kontrak di daerah pemukiman padat, tidak memiliki kursi tamu sehingga setiap tamu diterima dengan lesehan, tidak memiliki kendaraan pribadi sehingga pergi kemanapun - termasuk ke kantor DPRD - memakai angkutan umum.

Dan, tahukah anda bahwa Pak Zubair hanya mengambil gaji dari Dewan secukupnya dan selebihnya selalu diberikan pada bendahara partai?

Ini adalah sepenggal kasih yang saya dengar sendiri dari istri beliau, Ibu DyahRahmawati, sepanjang perjalanan di wilayah barat Jawa Tengah.

"Bu Dyah, ceritakan pada saya tentang kemanfaatan duniawi," pinta saya pada beliau.

Beliau tersenyum sambil memandang mata saya. "Harta duniawi itu kemanfaatannya tergantung pada kita. Kemanfaatannya terbagi menjadi tiga. Yang paling rendah adalah hisbusyaithan (jalan syetan), yaitu ketika kita tabsyir (menyia-nyiakan harta, bermegah-megah dan melupakan dhuafa). Tingkat berikutnya adalah intifa' (kemanfaatan), yakni ketika kita memiliki harta dan kemanfaatannya dirasakan oleh kita, keluarga dan sekaligus umat. Contohnya bila kamu punya mobil, katanya pada saya," maka itu intifa' ketika bermafaat tidak hanya untuk diri dan keluarga tetapi juga untuk dakwah. Nah, yang tertinggi itu fisabilillah, yakni ketika seluruh diri, keluarga dan harta yang kita miliki kita berikan seluruhnya untuk dakwah, kita mengambil secukupnya saja, sekadarnya."

"Jadi, Ibu tidak pernah menabung? Untuk persiapan anak-anak, misalnya?" Tanya saya gelisah. Beliau hanya tertawa. Dan saya menyaksikan sendiri bahwa visi itu tidak sekadar visi, tetapi telah menjadi karakter pada diri beliau berdua.

Suatu saat, Pak Zubair mendapat rezeki yang banyak, lebih dari kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. Maka, beliau meletakkan rezeki itu diatas meja.

"Pak, mengapa uang begitu banyak diletakkan begitu saja di meja?" Tanya Bu Dyah.

"Itu bukan rezeki kita, Bu. Semoga nanti diambil oleh pemiliknya," kata Pak Zubair tenang. Lalu beliau melanjutkan kesibukannya, demikian pula Bu Dyah yang telah cukup dengan keterangan Pak Zubair.

Maka, ketika hari telah menjelang siang, datanglah salah seorang tetangga Pak Zubair, seorang pengemudi becak. "Assalamu'alaikum Pak Zubair ., tolong.tolong.saya, Pak.!"

"Wa'alaikumussalam. monggo, Pak.,lenggah rumiyin. Duduk dulu.! Apa yang bisa dibantu, Pak?"

"Saya. saya tidak punya uang untuk menebus anak saya dari rumah sakit, Pak."

Masih dengan senyum menenangkan, Pak Zubair mengambil uang yang sedari pagi tergeletak di atas meja. Utuh dalam amplopnya. "Yang empunya rezeki sudah mengambil haknya, Bu," Bisik Pak Zubair pada Bu Dyah.





http://nyanyian-perjalanan.blogspot.com/2004/03/bukan-di-negeri-dongeng.html

Rabu, 09 Maret 2011

Partai Keadilan Sejahtera, Janganlah Seperti Monyet

Beberapa hari ini, media televisi di Indonesia tidak akan pernah melewatkan beberapa isu tentang reshuffle Kabinet. Isu yang tentunya membuat was-was para petinggi partai politik dan juga menteri dari partai politik yang takut kalau mereka direshuffle oleh presiden dengan hak prerogative yang dimilikinya.

Isu reshuffle tersebut sangat berhembus kencang bagi Partai Keadilan Sejahtera dan partai Golongan Karya. Partai Keadilan Sejahtera atau PKS memiliki empat orang menteri yang berada di pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua dibawah kepemimpinan presiden SBY. Sedangkan partai Golongan Karya atau Golkar hanya menempatkan tiga orang kader mereka di pemerintahan.



Semua ini berawal ketika Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Golkar yang merupakan mitra koalisi ternyata mendukung hak angket mafia pajak, sementara partai yang memiliki jumlah suara paling besar yaitu partai Demokrat dan partai-partai kecil lainnya, tidak mendukung hak angket tersebut yang pada akhirnya dimenangkan oleh orang-orang yang menolak hak angket tersebut.

Melihat perilaku dua anggota partai koalisi ini, banyak sekali orang yang berpendapat dan tentunya membuat kader partai Demokrat marah karena mereka merasa bahwa sudah seharusnya partai yang berkoalisi itu satu kata dan mendukung pemerintahan.

Pengamat politik dari Center Strategic of International Studies (CSIS), J. Kristiadi menilai bahwa setelah ditolaknya usulan hak angket tersebut, dia menilai bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Golkar tetap konsisten. Tetapi J. Kristiadi menyatakan bahwa partai politik yang benar-benar konsisten membentuk pemerintahan yang bebas korupsi, pemerintahan yang bersih, peduli, professional adalah Partai Keadilan Sejahtera.



"Kalau misi Golkar mengusung angket mafia pajak untuk melindungi Aburizal ya jelas gagal," kata Kristiadi. "Sementara PKS, hak angket kemarin menunjukkan partai tersebut konsisten, mau pemerintahan yang bersih dan good governance. Sikapnya tidak bergantung pemerintah." Kata J. Kristiadi yang dikutip dari TempoInteraktif.com dengan judul J.Kristiadi: Jika Tak Nyaman, PKS Sebaiknya Hengkang dari Koalisi

Selain itu, para pakar yang lain uga mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Golkar sudah sadar dengan konstitusi. Pakar Hukum Tata Negara, Irman Putra Sidin yang dikutip dari primaironline.com dengan judul Pengamat : Golkar & PKS sadar akan konstitusi mengatakan bahwa Golkar dan PKS telah menunjukkan kepada rakyat tentang kesadarannya terhadap konstitusi bahwa DPR tidak boleh terbelah oleh kamar atau bagian yang terbentuk oleh koalisi dan oposisi.

“Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera telah menunjukkan kepada rakyat secara kesadarannya terhadap konstitusi bahwa DPR tidak boleh terbelah oleh kamar atau partisi yang terbentuk oleh koalisi dan oposisi, sistem kenegaraan kita tidak mengatur hal tersebut,” Kata Irman di Gedung DPR pada hari Jum’at (25/2).



Lantas bagaimana kita menyikapi masalah reshuffle ini? Tentunya kita semua pasti mempunyai perbedaan pendapat. Tentunya perbedaan pendapat tersebut merupakan suatu keindahan yang patut kita syukuri karena sangat jarang sekali Negara didunia ini yang mengakomodasi kebebasan berpendapat. Tentunya kebebasan berpendapat yang diakomodir adalah kebebasan yang tidak bertentangan dengan hukum Negara dan juga hukum agama. Selagi tidak bertentangan dengan hukum tersebut, silahkan berbeda pendapat.

Menurut pendapat saya, apa yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Golkar sudah benar. Sebuah partai politik yang mempunyai azaz religius dan juga dikenal dengan slogan bersih, peduli, dan professional, Partai Keadilan sejahtera telah membuktikan bahwa memang mereka konsisten membentuk pemerintahan yang bersih dengan salah satu caranya adalah dengan mendukung hak angket karena memang sebagian besar rakyat Indonesia menyadari bahwa ada yang salah dari sistem perpajakan di Indonesia. Sistem perpajakan yang tidak mensejahterakan rakyat, tetapi mensejahterakan golongan yang mengurusi pajak tersebut.



Sebagai ilustrasi, pada saat ini Partai Keadilan Sejahtera seperti seseorang sahabat yang mengingatkan temannya yang sedang salah jalan. Tentunya sebagai seorang sahabat yang telah berjanji untuk bersama-sama mencapai suatu tujuan yang baik, maka ketika melihat temannya menempuh jalur yang salah dari tujuan, maka sebagai seorang sahaabt sudah menjadi tugasnya mengingatkan agar tetap berada ditujuan awal agar sampai ditempat yang dituju pada niat awalnya.

Lantas salahkah sahabat itu? Sebagai seseorang yang memiliki akal jernih, kita akan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera tidaklah salah. Malah, kita harus berterima kasih karena telah diingatkan untuk kembali kepada tujuan awal dimulainya sebuah pengalaman agar perjalanan tersebut sampai pada tempat yang telah disepakati.

Jika memang pada akhirnya Presiden mengeluarkan Partai Keadilan Sejahtera dan partai Golkar dari pemerintahan, maka Partai Keadilan Sejahtera janganlah gusar. Mungkin sudah sepantasnya bersyukur karena mungkin pada saat ini Partai Keadilan Sejahtera sedang diingatkan oleh Tuhan agar tidak menjadi monyet yang terjatuh akbat terlepasnya pegangangan eratnya pada ranting pohon dikarenakan hembusan kenikmatan yang diberikan oleh angin sepoi-sepoi.



Mungkin inilah saatnya bagi semua kader Partai Keadilan Sejahtera untuk menerapkan slogan bekerja untuk Indonesia. Jika keluar dari koalisi, tentunya memberikan kesempatan yang lebih besar bagi para kader Partai Keadilan Sejahtera baik yang menjadi pejabat Negara maupun yang tidak menjabat agar menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia.

http://ohs87.blogspot.com/2011/03/partai-keadilan-sejahtera-janganlah.html 

Klik Iklan

Mengenai Saya

Foto saya
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebelumnya bernama Partai Keadilan (PK), adalah sebuah partai politik berbasis Islam di Indonesia. PKS didirikan di Jakarta pada 20 April 2002 (atau tanggal 9 Jumadil 'Ula 1423 H untuk tahun hijriah) dan merupakan kelanjutan dari Partai Keadilan (PK) yang didirikan di Jakarta pada 20 Juli 1998 (atau 26 Rabi'ul Awwal 1419 H).

Tinggalkan Pesan

Twitter Account

Catatan Harian Anak Jalanan

Iklan

Berita Hidayat Nur Wahid

Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates